Saturday, October 15, 2011

Fenomena Pemerkosaan "Angkot"

Jakarta – Maraknya aksi kejahatan jalanan khususnya pemerkosaan yang bermotif perampokan bahkan disertai pembunuhan di Jakarta belakangan ini cukup membuat resah semua kalangan. Aparat Polisi, pejabat pemerintahan dan warga pun angkat bicara mengenai maraknya kasus pemerkosaan yang disertai perampokan itu.

Seperti diketahui sebelumnya aksi pemerkosaan, perampokan dan pembunuhan di Jakarta menimpa mahasiswi binus Livia Pavita Sulistyo yang diperkosa terlebih dahulu di dalam angkot dan akhirnya tewas dibunuh.
Kali ini peristiwa serupa dialami RS (28) karyawati swasta di bilangan Jakarta Selatan. Namun korban kali ini tidak dibunuh. RS hanya diperkosa dua pria secara bergantian di dalam angkot D-02 setelah akhirnya di turunkan di bilangan Cilandak.
Fenomena tersebut tentu mebuat miris. Belum usai tercengangnya warga akan peristiwa tersebut, Gubernur DKI Jakarta justru menabur garam diatas luka.
Pria berkumis tebal ini dalam pernyataannya menegaskan jika maraknya korban perkosaan karena pakaian korban.
"Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini, kan agak gerah juga. Sama kayak orang naik motor, pakai celana pendek ketat lagi, itu yang di belakangnya bisa goyang-goyang," katanya sembari bercanda.
Pernyataan Foke menuai kritik dari berbagai kalangan, bahkan sejumlah aktivis perempuan menggelar aksi di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu (18/9) sore.
"Aksi ini dilakukan untuk menyadarkan semua pihak bahwa tragedi perkosaan bukan karena faktor pakaian perempuan, tetapi lebih karena niat dari pelaku," ujarnya Dhyta kepada CentroOne.com.
Pernyataan Foke itu juga disoal Sosiolog Universitas Airlangga Bagong Suyanto. Menurut Bagong, aksi perkosaan di Jakarta yang saat ini marak di ruang publik, merupakan degradasi moral. Namun terlepas dari itu, fakta menyatakan jika korban perkosaan itu rentang umurnya mulai balita 2 tahun sampai nenek-nenek usia 70 tahun.
“Melihat tingkat umur korban, siapapun akan menjadi korban. Artinya, itu sudah tak tergantung lagi masalah tubuh seksi korban, pakaian dan sebagainya. Itu tak memengaruhi karena korbannya bervariasi,” tandas Bagong.
Bagong juga menuturkan jika masalah perkosaan yang sudah terjadi di ranah publik itu disebabkan karena kurangnya kepedulian masyarakat untuk menjaga keselamatan perempuan.
Di zona publik, masyarakat sebetulnya harus bisa mengeleminasi masalah kejahatan terhadap perempuan, termasuk masalah perkosaan.
“Jika sudah menyangkut umur korban, sebenarnya jangan hanya bisa menyalahkan korban yang berpakaian minim, ini sudah tak ada kaitannya. Tapi yang harus dicari penyebabnya adalah pada pelakunya, bukan korban. Pelaku yang tertangkap bisa ditanya penyebab atau motivasi dia melakukan tindak kejahatan moral tersebut,” aku Bagong.
Sementara dengan kejadian di Jakarta yang menimpa korban di atas angkot pada malam hari, itu termasuk kondisi situasionalnya saja. Sebab profil korban yang dari berbagai variasi umur dan status, menjadi bukti konkrit adanya kejahatan ini.
“Perkosaan itu ada dua modus, yang pertama karena modus kriminalitas yaitu memerkosa sekaligus menjarah barang korban dan yang kedua modus nafsu. Tapi pakaian bukan menjadi penyebabnya. Begitu juga dengan pengaruh arus komunikasi seperti tayangan televisi dan film biru, itu hanya menjadi konstruksi yang sudah tertanam lama di pikiran pelaku,” tambah dia.
Bagi Bagong, korban perkosaan saat ini hanya menjadi simplikasi masalah, bukan terlibat langsung. Untuk itu, agar tindak kejahatan seperti ini berkurang atau terhenti, perlu kepedulian seluruh masayarakat untuk mencegah aksi kejahatan tersebut.
Karena banyak menuai kritik dan protes, Foke akhirnya meminta maaf kepada masyarakat terkait statemennya di media massa yang rawan disalahartikan. Ia mengakui tindak kriminal di angkot belakangan ini memang membuat keprihatinan banyak pihak. Sebab, tindak kejahatan yang dilakukan mengincar kaum perempuan, yang seharusnya justru dilindungi.
"Saya minta maaf, jika pernyataan saya sebelumnya yang rawan salah tafsir. Saya sama sekali tidak bermaksud melecehkan kaum perempuan. Saya justru mengutuk aksi pemerkosaan tersebut. Pelaku harus dihukum seberat-beratnya," kata Foke di depan para wartawan.
Sementara Pakar Kriminologi U-I, Adrianus Meleila, menyatakan aksi pemerkosaan, perampokan dan pembunuhan, termaksud kasus kejahatan yang jarang terjadi jika dibandingkan kasus kejahatan jalanan lainnya. Jadi pihak kepolisian harus tanggap terhadap kasus perampokan, pemerkosaan bahkan yang disertai pembunuhan.
"Diharapkan agar para petugas kepolisian segera tanggap terhadap bahaya kejahatan jalanan yang marak sekarang ini," ujar Adrianus kepada CentroOne, Senin (20/9).
Selain kasus diatas kemaren terjadi lagi pemerkosaan yang melibatkan supir angkot jurusan Kampung Melayu-Pondok Gede yang menimpa seorang korban pembantu rumah tangga. Lagi-lagi pelaku adalah supir tembak angkot yang baru tiga bulan di Jakarta. Dan lebih mirisnya setelah di perkosa korban juga di rampok dan di tinggal begitu saja.
Sebaiknya polisi dapat meningkatkan pengawasan dan pengamanan tempat-tempat yang dinilai rawan kejahatan, yang gunanya agar para calon pelaku berfikir untuk melakukan tindakan kejahatan.
Dikutip dari centro one

No comments:

Post a Comment

Pages

Gabung Yuk....